Ketika Empat Huruf Pernah Menjadi Segalanya

Pernah ada empat huruf yang sanggup membuat duniaku mendadak senyap. Bukan karena suara di sekitar berhenti, melainkan karena pikiranku sepenuhnya tertambat pada satu nama. Kata itu sederhana, namun kekuatannya terasa luar biasa dalam hidupku.

Setiap kali namanya hadir, jantung berdetak lebih cepat tanpa aba-aba. Telapak tangan berubah dingin, sementara napas terasa pendek. Harapan-harapan kecil pun tumbuh diam-diam, meski sering kali tak pernah menemukan tempat untuk menetap.

Pada masa itu, ia menjadi pusat semesta—poros tempat semua rasa berputar tanpa kendali.


Waktu yang Perlahan Menggeser Segalanya

Perubahan tidak datang dalam bentuk perpisahan besar. Tidak ada drama, tidak pula suara keras yang menandai akhir. Yang ada hanyalah waktu, berjalan pelan, mengikis keyakinan yang terlalu lama kugenggam sendiri.

Hari-hari berlalu dengan sunyi yang berbeda. Bukan lagi sunyi penuh tanya, melainkan keheningan yang memaksa diri untuk berhenti berharap.

Di titik itulah, lelah mulai terasa jujur.


Hadirnya Kopi Tanpa Janji

Kini, empat huruf yang membuatku terjaga telah berganti. Bukan lagi nama seseorang, melainkan secangkir kopi yang mengepul pelan di hadapanku.

Tidak ada janji yang dibawanya. Ia tidak berusaha menjadi manis agar disukai. Kepahitan yang dimilikinya pun tidak disembunyikan.

Justru karena itulah kopi terasa lebih tulus—datang tanpa topeng, tinggal tanpa tuntutan.


Pahit yang Tidak Melukai

Berbeda dengan pahit yang dulu pernah kurasakan, pahit dalam kopi tidak menyisakan luka. Rasanya tegas, tetapi jujur. Tidak menusuk, tidak menguras.

Hangatnya menyebar perlahan, cukup untuk menenangkan tanpa membakar. Dalam kesederhanaan itu, ada pelajaran kecil yang mulai kupahami: tidak semua pahit perlu ditakuti.

Sebagian di antaranya justru menguatkan.


Debaran yang Kini Lebih Tenang

Dulu, debar jantung identik dengan kecemasan. Takut kehilangan, takut tak cukup, takut ditinggalkan tanpa penjelasan.

Sekarang, sensasinya berubah. Getaran itu hadir sebagai tanda kehidupan—energi yang mengalir, bukan tekanan yang menyesakkan.

Alih-alih melelahkan, debaran ini justru mengingatkanku bahwa aku masih mampu menikmati hari.


Aroma yang Mengisi Ruang

Bukan lagi tatapan yang membuatku gugup yang kucari. Kini, aroma biji kopi yang baru disangrai terasa jauh lebih menenangkan.

Wanginya mengisi ruang tanpa memaksa perhatian. Ia hadir lembut, meresap ke dalam napas, lalu menetap di pikiran.

Dalam aroma itu, pikiranku menemukan jeda yang dulu jarang ada.


Ruang Batin yang Mulai Seimbang

Sedikit demi sedikit, ruang batinku berubah. Riuh pertanyaan yang dulu mendominasi kini mereda.

Keadaannya menyerupai kopi yang diseduh dengan suhu tepat—pahitnya wajar, hangatnya konsisten, dan sisa rasanya tinggal lama tanpa menyisakan perih.

Tidak semua hal perlu dimengerti. Beberapa cukup diterima.


Ikhlas yang Datang Tanpa Paksaan

Melupakan ternyata bukan tentang menghapus kenangan. Yang terjadi justru proses berdamai dengan keberadaannya.

Kenangan masih datang sesekali, tetapi tidak lagi mengetuk dengan paksa. Ia lewat seperti angin, terasa sebentar, lalu pergi.

Di situlah aku memahami arti ikhlas yang sebenarnya.


Dari Kamu Menuju Kopi

Empat huruf itu masih sama jumlahnya, tetapi maknanya telah berubah arah.

Dari sesuatu yang pernah membuatku gelisah, menjadi rasa yang kini menenangkan.

Aku tidak lagi meminta hidup selalu manis.
Kejujuran terasa jauh lebih cukup—seperti kopi.

Baca Juga : Sabu Disamarkan dalam Kopi, Penyelundupan Digagalkan

Cek Juga Artikel Dari Platform : beritabandar

By mimin