infowarkop.web.id Di balik hiruk-pikuk kawasan Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, terdapat cerita sederhana namun penuh makna tentang perjuangan seorang ayah. Mahadi, warga Ciketing Udik, memilih menjalani masa pensiunnya dengan cara yang berbeda. Alih-alih menikmati waktu santai tanpa aktivitas, ia justru memulai usaha kecil dengan berjualan kopi di area yang dikenal sebagai pusat pengolahan sampah terbesar di wilayah tersebut.
Mahadi bukanlah pedagang besar dengan modal berlimpah. Ia hanya seorang pria yang membawa termos kopi, beberapa gelas, dan perlengkapan sederhana. Namun, dari usaha kecil itulah ia mampu mendapatkan penghasilan yang cukup untuk membantu kebutuhan keluarga, termasuk membiayai pendidikan anaknya hingga perguruan tinggi.
Usaha Sederhana yang Menjadi Penopang Keluarga
Setiap harinya, Mahadi bisa memperoleh pendapatan kotor sekitar Rp200.000. Setelah dipotong modal dan biaya operasional, ia membawa pulang sekitar Rp100.000. Jumlah itu mungkin terlihat kecil bagi sebagian orang, tetapi bagi Mahadi, uang tersebut sangat berarti.
Dari hasil jualan kopi inilah ia bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga sekaligus membantu biaya kuliah anaknya. Baginya, usaha kecil tidak pernah bisa diremehkan, karena selama dijalankan dengan konsisten, hasilnya mampu menopang kehidupan.
Pendidikan Anak Jadi Prioritas Utama
Mahadi memiliki dua anak. Anak pertamanya sudah berkeluarga, sementara anak keduanya masih menempuh pendidikan di Universitas Terbuka. Ia mengaku bersyukur karena meskipun hanya berjualan kopi, ia tetap bisa memberikan dukungan nyata untuk masa depan anaknya.
Baginya, pendidikan adalah investasi paling penting. Ia bahkan menyampaikan bahwa dirinya memilih hidup sederhana tanpa kebiasaan merokok, agar uang yang ada bisa dialihkan untuk hal yang lebih bermanfaat. Mahadi percaya bahwa setiap rupiah yang ia hasilkan akan lebih baik digunakan untuk kebutuhan keluarga.
Rutinitas Pagi dan Sore yang Penuh Semangat
Rutinitas Mahadi dimulai sejak pagi. Ia membuka lapak kopinya sekitar pukul enam dan melayani pelanggan hingga menjelang siang. Setelah itu, ia beristirahat sejenak sebelum kembali berjualan pada sore hari.
Jadwal ini sudah menjadi bagian dari kehidupannya sehari-hari, sebuah pola yang membuatnya tetap aktif dan produktif meski sudah tidak bekerja di perusahaan seperti dulu. Baginya, kesibukan justru menjadi cara untuk tetap merasa hidup dan berguna.
Lapak Kopi yang Menjadi Tempat Singgah Banyak Orang
Para pelanggan Mahadi datang dari berbagai kalangan. Sopir truk yang keluar masuk kawasan TPST, pemulung yang mencari nafkah di sekitar tempat itu, pegawai, hingga orang-orang yang sekadar melintas.
Lapak kopinya menjadi semacam titik singgah bagi mereka yang ingin melepas lelah sejenak dengan secangkir kopi hangat. Di tengah lingkungan yang keras dan penuh tantangan, Mahadi mampu menciptakan ruang kecil yang memberikan kenyamanan bagi banyak orang.
Kebebasan Setelah Masa Kerja yang Panjang
Mahadi mengungkapkan bahwa berdagang kopi memberinya kebebasan yang tidak ia dapatkan saat bekerja di perusahaan. Dulu, ia harus mengikuti aturan jam kerja yang ketat dan semua aktivitas diatur oleh atasan.
Kini, dengan usaha kecilnya sendiri, ia merasa lebih leluasa mengatur waktu. Ia bisa menentukan kapan harus beristirahat, kapan harus melayani pelanggan, bahkan kapan harus mengambil waktu untuk beribadah. Baginya, berdagang seperti memiliki usaha sendiri, meskipun skalanya sederhana.
Inspirasi Bahwa Pensiun Bukan Akhir Produktivitas
Kisah Mahadi menjadi contoh nyata bahwa masa pensiun bukan akhir dari produktivitas. Justru bagi sebagian orang, pensiun bisa menjadi awal baru untuk menjalani hidup dengan cara yang lebih mandiri.
Mahadi membuktikan bahwa usaha kecil pun dapat memberikan dampak besar jika dijalani dengan tekad dan niat yang kuat. Perjuangannya juga menunjukkan betapa besar peran seorang ayah dalam keluarga.
Harapan dari Secangkir Kopi untuk Masa Depan
Mahadi berharap usahanya bisa terus berjalan lancar agar ia tetap bisa membantu keluarganya. Ia ingin membuktikan bahwa siapa pun, dari latar belakang apa pun, bisa bertahan dan berkembang selama mau bekerja keras.
Cerita Mahadi adalah gambaran tentang keteguhan hati, kesederhanaan, dan cinta orang tua yang tidak pernah berhenti berjuang. Dari secangkir kopi di Bantar Gebang, ia menyalakan harapan untuk masa depan anaknya dan menunjukkan bahwa keberhasilan tidak selalu datang dari usaha besar, tetapi juga dari langkah kecil yang konsisten setiap hari.

Cek Juga Artikel Dari Platform 1reservoir.com
