Rayakan Tumpek Klurut dengan Cara Sederhana

Gubernur Bali Wayan Koster merayakan Hari Tumpek Klurut—yang juga dikenal sebagai Hari Tresna Asih—dengan cara sederhana namun sarat makna. Dalam momentum hari kasih sayang menurut kearifan lokal Bali ini, Gubernur Koster mentraktir ribuan cangkir kopi untuk masyarakat, khususnya anak muda, di sejumlah coffee shop di Denpasar.

Aksi berbagi tersebut berlangsung di Jenar Coffee dan Tan Panama Coffee Shop. Suasana terasa hangat dan penuh keakraban, sejalan dengan makna Tumpek Klurut sebagai hari untuk menumbuhkan rasa cinta kasih dan kebersamaan.

Dukung UMKM Lewat Kopi dan Be Guling

Tak hanya kopi, Gubernur Koster juga mentraktir menu khas Bali berupa be guling di Warung Men Wenci, kawasan Sangeh. Sejak pagi, lokasi tersebut dipadati warga yang antusias menikmati sajian tradisional favorit.

Sebanyak dua ekor be guling habis dalam waktu singkat. Kegiatan ini sekaligus menjadi bentuk nyata dukungan terhadap UMKM lokal, yang dinilai memiliki peran penting dalam menjaga denyut ekonomi rakyat dan pelestarian kuliner tradisional Bali.

Gubernur Bercengkrama dengan Yowana

Saat berada di Tan Panama Coffee Shop, Gubernur Koster tampak santai bercengkrama dengan para pengunjung yang didominasi anak-anak muda atau yowana. Interaksi berlangsung akrab tanpa jarak. Ia bahkan melayani permintaan foto bersama dan swafoto dari para pengunjung.

Momen ini menjadi pengalaman berkesan bagi anak muda yang hadir. Kehadiran kepala daerah di ruang publik seperti coffee shop dinilai mampu menciptakan kedekatan emosional antara pemimpin dan masyarakat.

Makna Tumpek Klurut Menurut Gubernur Koster

Gubernur Koster menjelaskan bahwa Tumpek Klurut dimaknai sebagai momentum untuk menumbuhkan rasa tresna asih atau kasih sayang, mempererat hubungan antarsesama, serta memperkuat jati diri dan karakter masyarakat Bali.

Menurutnya, perayaan ini bukan sekadar ritual, melainkan refleksi nilai luhur yang relevan dengan kehidupan modern. Berbagi kebahagiaan dan membangun interaksi hangat menjadi cara sederhana namun bermakna untuk merawat kebersamaan.

Niskala dan Sekala dalam Perayaan

Koster menegaskan bahwa perayaan Tumpek Klurut dilaksanakan secara niskala lan sekala. Secara niskala, rangkaian perayaan diawali dengan persembahyangan yang dipusatkan di Pura Candi Narmada.

Sementara secara sekala, perayaan diwujudkan melalui interaksi langsung dengan masyarakat di ruang-ruang publik. Coffee shop dipilih sebagai tempat berkumpul anak muda, sekaligus simbol ruang kreativitas generasi masa kini.

Antusiasme Warga dan Pengunjung

Antusiasme masyarakat terlihat jelas sepanjang kegiatan. Salah seorang pengunjung, Prama asal Denpasar, mengaku senang bisa ikut merasakan kebersamaan tersebut.

Ia menyebut momen ini sebagai pengalaman indah di awal tahun 2026. Perayaan sederhana yang menghadirkan pemimpin daerah secara langsung dinilai memberi kesan mendalam dan membangun kedekatan emosional.

UMKM dan Generasi Muda sebagai Pilar Budaya

Gubernur Koster menekankan bahwa UMKM lokal Bali memiliki peran strategis, tidak hanya dalam ekonomi tetapi juga dalam menjaga budaya dan menjadi ruang kreativitas generasi muda. Oleh karena itu, momentum Tumpek Klurut dimanfaatkan untuk memperkuat solidaritas, kebersamaan, dan rasa tresna asih di tengah masyarakat.

Ia menilai nilai-nilai kearifan lokal Bali harus terus dirawat dan dimaknai secara kontekstual agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Hiburan Musik untuk Masyarakat

Tak berhenti sampai di sana, rangkaian perayaan Tumpek Klurut juga dimeriahkan dengan pentas musik di Panggung Terbuka Ardha Candra, Art Center Denpasar. Acara tersebut digelar pada hari yang sama dan terbuka untuk masyarakat luas mulai sore hingga malam hari.

Konsep musik dikemas untuk menciptakan suasana tenang, damai, lan becik, sehingga masyarakat dapat menikmati kebersamaan dengan nyaman.

Merawat Identitas dan Jati Diri Bali

Melalui perayaan Tumpek Klurut, Gubernur Koster berharap nilai-nilai kasih sayang, kebersamaan, dan kepedulian sosial dapat terus tumbuh di tengah masyarakat Bali. Menurutnya, jati diri dan karakter krama Bali merupakan warisan leluhur yang harus dijaga bersama.

Perayaan ini menjadi contoh bagaimana kearifan lokal tidak hanya dirawat lewat ritual, tetapi juga melalui tindakan nyata yang menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat modern.

Baca Juga : 5 Magic Drink Pengganti Kopi Bikin Tetap Energik

Cek Juga Artikel Dari Platform : festajunina

By mimin