Pembukaan KOMPPI Art Space dan Antusiasme Peserta
Pembukaan KOMPPI Art Space di Tamini Square Mall menjadi momen penting bagi geliat seni rupa berbasis komunitas pada awal 2026. Sebagai bagian dari rangkaian peresmian ruang seni tersebut, Komunitas Perupa Perempuan Indonesia (KOMPPI) menggelar sebuah workshop melukis dengan media kopi yang langsung menarik perhatian publik.
Sekitar 70 peserta hadir mengikuti kegiatan ini. Mereka datang dari latar belakang yang beragam, mulai dari masyarakat umum yang baru pertama kali mencoba melukis hingga seniman yang ingin memperluas eksplorasi medium. Kehadiran peserta lintas latar ini menciptakan suasana yang dinamis, sekaligus menunjukkan bahwa seni kopi mampu menjangkau ruang yang inklusif.
Workshop tidak hanya menjadi kegiatan pembelajaran, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi pengunjung mall untuk mengenal seni rupa dengan pendekatan yang lebih dekat dan membumi.
Titiek Sundari sebagai Figur Sentral Workshop
Dalam kegiatan tersebut, KOMPPI menghadirkan sejumlah mentor berpengalaman, yakni Titiek Sundari, Eddy Yoen, Novandi, dan Indah Soenoko. Namun sejak awal, peran Titiek Sundari tampak menonjol sebagai figur sentral yang memimpin jalannya workshop.
Dengan pembawaan tenang dan sistematis, ia membuka sesi dengan pengenalan dasar mengenai karakter kopi sebagai medium lukis. Pendekatannya tidak menggurui, melainkan mengajak peserta memahami kopi sebagai material hidup yang memiliki keunikan tersendiri.
Titiek menjelaskan bahwa melukis dengan kopi menuntut kepekaan berbeda dibandingkan cat konvensional. Warna tidak bisa dikoreksi secara instan, dan setiap sapuan kuas meninggalkan jejak yang harus diterima sebagai bagian dari proses artistik.
Metode Pengajaran yang Lugas dan Membumi
Salah satu kekuatan utama Titiek Sundari terletak pada cara menyampaikan materi. Bahasanya lugas, jelas, dan mudah dipahami, bahkan oleh peserta yang belum pernah menyentuh dunia seni rupa sebelumnya.
Ia memandu peserta mulai dari pemilihan objek sederhana, teknik sapuan kuas dasar, hingga pengaturan tingkat kekentalan kopi untuk menghasilkan gradasi warna. Hal-hal teknis seperti posisi kanvas dan arah cahaya juga dijelaskan secara praktis.
Pendekatan ini membuat suasana workshop terasa hidup namun tetap terarah. Peserta tidak hanya mendengar, tetapi langsung mempraktikkan setiap tahapan dengan pendampingan intensif dari para mentor.
Proses Kreatif yang Mengalir Alami
Selama kurang lebih dua jam, ruang workshop dipenuhi aroma kopi yang khas dan suasana konsentrasi yang menyenangkan. Tidak terlihat ketegangan berlebihan. Sebaliknya, peserta tampak menikmati proses, saling bertukar cerita, dan tertawa ketika hasil lukisan mulai terbentuk secara perlahan.
Beberapa peserta bahkan berhasil menyelesaikan lukisan mereka dalam waktu yang relatif singkat. Hal ini menjadi indikator bahwa metode mentoring yang diterapkan berjalan efektif.
Di akhir sesi, sepuluh karya terbaik dipilih oleh dewan juri. Pemilihan ini bukan semata soal estetika, tetapi juga keberanian peserta dalam mengeksplorasi karakter kopi sebagai medium.
Lukisan Kopi dan Daya Tariknya bagi Kolektor
Tak hanya menampilkan karya hasil workshop, KOMPPI Art Space juga memajang sejumlah lukisan kopi karya anggota komunitas. Karya-karya tersebut disiapkan untuk dapat dipinang oleh kolektor maupun pecinta seni.
Kehadiran lukisan kopi di ruang pamer ini menjadi penanda bahwa medium kopi masih memiliki tempat istimewa di dunia seni rupa. Warna cokelat dengan berbagai nuansanya menciptakan kesan hangat, intim, dan personal yang sulit ditemukan pada medium lain.
Bagi sebagian kolektor, lukisan kopi menghadirkan kedekatan emosional karena bersentuhan langsung dengan keseharian masyarakat.
Titiek Sundari dan Perjalanan Artistik Kopi
Usai workshop, kesempatan berbincang dengan Titiek Sundari membuka pemahaman lebih dalam mengenai relasinya dengan medium kopi. Meski menguasai berbagai teknik dan bahan—mulai dari cat air, akrilik, hingga cat minyak—kopi memiliki tempat khusus dalam perjalanan artistiknya.
Menurut Titiek, kopi bukan sekadar bahan alternatif, melainkan medium yang menuntut kejujuran visual. Setiap lapisan warna lahir dari proses alami, tidak bisa sepenuhnya dikendalikan, dan justru di situlah letak keindahannya.
Konsistensi Titiek dalam berkarya dengan kopi menjadikan karakter visual karyanya mudah dikenali. Banyak lukisannya menampilkan nuansa lembut namun kuat, dengan permainan cahaya dan ruang yang matang.
Kopi sebagai Medium yang Sarat Makna
Bagi Titiek Sundari, melukis dengan kopi juga memiliki dimensi filosofis. Kopi merupakan bagian dari budaya keseharian masyarakat Indonesia. Menggunakannya sebagai medium seni berarti menghadirkan kehidupan sehari-hari ke dalam ruang estetika.
Melalui kopi, batas antara seni tinggi dan pengalaman sehari-hari menjadi lebih cair. Penonton tidak hanya melihat lukisan, tetapi juga merasakan kedekatan emosional dengan medium yang digunakan.
Pendekatan ini sejalan dengan semangat KOMPPI yang mendorong seni rupa agar lebih inklusif dan membumi.
Peran KOMPPI dalam Ekosistem Seni Perempuan
Kehadiran KOMPPI Art Space juga menjadi langkah strategis dalam memperkuat posisi perupa perempuan di Indonesia. Melalui ruang ini, karya-karya perempuan mendapatkan panggung yang setara sekaligus berkelanjutan.
Workshop, pameran, dan diskusi yang dihadirkan menjadi wadah pertukaran gagasan antar seniman lintas generasi. Aktivitas ini tidak hanya membangun kapasitas artistik, tetapi juga memperluas jejaring dan apresiasi publik.
Dalam konteks ini, sosok seperti Titiek Sundari berperan penting sebagai penghubung antara pengalaman, edukasi, dan regenerasi seniman.
Lukisan Kopi sebagai Ruang Eksplorasi Masa Depan
Workshop di Tamini Square menunjukkan bahwa lukisan kopi masih memiliki ruang eksplorasi yang luas. Medium ini tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga kaya narasi budaya.
Antusiasme peserta menjadi sinyal bahwa seni tidak harus selalu hadir dalam bentuk yang eksklusif. Ketika medium terasa dekat, proses belajar menjadi lebih terbuka dan menyenangkan.
Melalui pendekatan semacam ini, seni rupa berpotensi menjangkau publik yang lebih luas tanpa kehilangan kedalaman maknanya.
Penutup
Workshop lukisan kopi KOMPPI menjadi bukti bahwa seni dapat tumbuh dari hal-hal sederhana. Di tangan Titiek Sundari, kopi menjelma menjadi medium ekspresi yang hangat, jujur, dan penuh karakter.
Melalui pembelajaran yang terstruktur dan suasana yang inklusif, kegiatan ini tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga pengalaman estetik yang membekas.
Eksotisme lukisan kopi bukan sekadar pada warnanya, melainkan pada proses, kebersamaan, dan cerita yang menyertainya.
Baca Juga : 5 Manfaat Ampas Kopi untuk Kulit yang Jarang Diketahui
Cek Juga Artikel Dari Platform : dailyinfo

