Kopi dan deadline kini seolah menjadi dua hal yang tak terpisahkan dari kehidupan mahasiswa. Di banyak kota pelajar, khususnya Yogyakarta, pemandangan mahasiswa begadang hingga larut malam bahkan dini hari bukan lagi hal asing. Coffee shop yang buka 24 jam, kamar kos dengan lampu menyala semalaman, hingga sudut perpustakaan yang sunyi menjadi saksi bagaimana mahasiswa berjuang menyelesaikan tugas kuliah.
Fenomena ini sering disebut sebagai “gaya hidup kelelawar”, istilah populer untuk menggambarkan kebiasaan aktif di malam hari dan tidur saat pagi menjelang siang. Bagi sebagian mahasiswa, begadang bukan lagi pilihan, melainkan keharusan demi mengejar tenggat waktu tugas yang menumpuk.
Kopi sebagai Teman Setia Begadang
Bagi mahasiswa, kopi bukan sekadar minuman. Ia telah menjelma menjadi “bahan bakar” utama saat energi mulai terkuras. Kandungan kafein dipercaya mampu menahan rasa kantuk, meningkatkan fokus, dan menjaga mata tetap terbuka di depan layar laptop.
Tak heran jika banyak mahasiswa menjadi pelanggan setia coffee shop. Di Yogyakarta, puluhan hingga ratusan pelajar menghabiskan malam dengan secangkir kopi di meja, ditemani laptop, buku catatan, dan deadline yang menunggu. Coffee shop 24 jam pun tumbuh subur, menjadi ruang alternatif bagi mahasiswa untuk bekerja dalam suasana yang dianggap lebih nyaman dibandingkan kos atau rumah.
Namun, di balik aroma kopi dan suasana produktif tersebut, tersimpan konsekuensi kesehatan yang sering kali diabaikan.
Begadang dan Dampaknya bagi Kesehatan Fisik
Begadang secara terus-menerus memberikan dampak yang cukup serius bagi kesehatan fisik mahasiswa. Banyak dari mereka mengeluhkan tubuh terasa pegal, cepat lelah, dan sering merasa kurang enak badan. Kurang tidur menyebabkan tubuh tidak memiliki waktu yang cukup untuk melakukan pemulihan.
Salah satu mahasiswa mengungkapkan pengalamannya, “Saya terbiasa tidur di atas jam satu malam. Kalau tidak begitu, tugas saya tidak akan selesai tepat waktu.” Pernyataan ini mencerminkan realitas banyak mahasiswa yang harus mengorbankan waktu istirahat demi tuntutan akademik.
Selain rasa pegal, efek lain yang sering dirasakan adalah sakit kepala, pusing, gangguan pencernaan, hingga daya tahan tubuh yang menurun. Akibatnya, mahasiswa menjadi lebih mudah terserang flu dan penyakit ringan lainnya.
Dampak pada Kesehatan Mental dan Konsentrasi
Tidak hanya fisik, kesehatan mental juga ikut terdampak. Kurang tidur dalam jangka panjang dapat memicu stres, mudah cemas, dan suasana hati yang tidak stabil. Mahasiswa yang sering begadang mengaku mengalami penurunan konsentrasi, sulit fokus saat kuliah pagi, serta mudah merasa lelah secara emosional.
Ironisnya, meskipun begadang dilakukan demi menyelesaikan tugas, kualitas hasil kerja tidak selalu optimal. Otak yang lelah cenderung bekerja lebih lambat dan kurang kreatif, sehingga tugas dikerjakan sekadar selesai, bukan maksimal.
Manajemen Waktu yang Menjadi Akar Masalah
Salah satu faktor utama munculnya gaya hidup begadang adalah manajemen waktu yang kurang baik. Banyak mahasiswa menunda pengerjaan tugas hingga mendekati tenggat waktu. Akibatnya, malam hari menjadi satu-satunya waktu untuk bekerja secara intens.
Masalah ini semakin kompleks bagi mahasiswa yang kuliah sambil bekerja. Jadwal mereka sering kali padat sejak pagi hingga malam. Pagi hingga siang dihabiskan untuk kuliah, lalu dilanjutkan bekerja hingga sore atau malam hari. Waktu luang untuk mengerjakan tugas baru tersedia setelah pulang kerja, sehingga begadang menjadi rutinitas yang tak terhindarkan.
Coffee Shop sebagai Ruang Produktivitas Baru
Fenomena begadang juga berkaitan dengan perubahan ruang belajar mahasiswa. Coffee shop kini berfungsi ganda sebagai tempat nongkrong sekaligus ruang kerja. Suasana yang santai, akses Wi-Fi, dan kopi yang selalu tersedia membuat banyak mahasiswa merasa lebih produktif di sana.
Namun, kebiasaan ini juga memicu normalisasi begadang. Ketika lingkungan mendukung aktivitas malam hari, batas antara waktu kerja dan waktu istirahat menjadi kabur. Mahasiswa merasa wajar bekerja hingga dini hari, tanpa menyadari dampak jangka panjangnya.
Normalisasi Begadang dalam Budaya Akademik
Di kalangan mahasiswa, begadang sering dianggap sebagai simbol perjuangan dan dedikasi akademik. Ungkapan seperti “belum mahasiswa kalau belum begadang” kerap terdengar dan tanpa disadari membentuk budaya yang tidak sehat.
Padahal, produktivitas tidak selalu sebanding dengan lamanya waktu begadang. Banyak penelitian menunjukkan bahwa tidur cukup justru meningkatkan daya ingat, konsentrasi, dan kemampuan berpikir kritis.
Peran Kampus dan Lingkungan Sosial
Fenomena ini tidak bisa sepenuhnya dibebankan pada mahasiswa. Sistem akademik, beban tugas, dan jadwal perkuliahan juga berperan besar. Tumpukan tugas dengan tenggat waktu yang berdekatan sering memaksa mahasiswa bekerja hingga larut malam.
Lingkungan sosial pun turut memengaruhi. Ketika teman-teman melakukan hal yang sama, begadang terasa menjadi norma bersama. Tekanan sosial ini membuat mahasiswa enggan tidur lebih awal karena takut dianggap kurang produktif.
Mencari Keseimbangan antara Kopi dan Istirahat
Meski kopi membantu menahan kantuk, ia bukan solusi jangka panjang. Konsumsi kafein berlebihan justru dapat memperparah gangguan tidur dan meningkatkan kecemasan. Mahasiswa perlu mulai mencari keseimbangan antara produktivitas dan kesehatan.
Beberapa langkah sederhana bisa dilakukan, seperti mengatur jadwal pengerjaan tugas lebih awal, membagi pekerjaan menjadi bagian kecil, serta membatasi konsumsi kopi di malam hari. Tidur cukup bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan dasar agar tubuh dan pikiran tetap sehat.
Kesimpulan
Fenomena kopi dan deadline telah melahirkan gaya hidup kelelawar di kalangan mahasiswa. Begadang demi tugas memang sering terasa tak terhindarkan, terutama bagi mereka yang memiliki jadwal padat. Namun, kebiasaan ini membawa dampak serius bagi kesehatan fisik dan mental.
Penting bagi mahasiswa untuk menyadari bahwa produktivitas sejati tidak harus dibayar dengan begadang terus-menerus. Dengan manajemen waktu yang lebih baik dan kesadaran akan pentingnya istirahat, kopi bisa kembali menjadi teman sesekali, bukan penopang utama gaya hidup yang melelahkan.
Baca juga : Kopi Siap Minum Dorong Ekonomi Desa Benjor Malang
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : outfit

