infowarkop.web.id Di lereng Gunung Ijen, kawasan yang selama puluhan tahun dikenal sebagai penghasil kopi arabika berkualitas tinggi, kegelisahan justru menjadi bagian dari keseharian. Bukan cuaca ekstrem atau fluktuasi harga pasar yang menjadi sumber keresahan, melainkan konflik lahan yang tak kunjung menemui titik terang.

Bagi ribuan pekerja perkebunan, kebun kopi di kawasan Ijen bukan sekadar tempat bekerja. Ia adalah ruang hidup, sumber nafkah, sekaligus penopang masa depan keluarga. Ketika kebun rusak dan status lahan dipersoalkan, yang terguncang bukan hanya produksi kopi, tetapi juga rasa aman para pekerja.

Aksi Damai sebagai Luapan Kekecewaan

Kekecewaan itu akhirnya memuncak ketika ribuan pekerja yang tergabung dalam Serikat Pekerja Perkebunan Nusantara XII mendatangi kantor pemerintah daerah Kabupaten Bondowoso. Aksi yang dilakukan secara damai tersebut menjadi simbol kelelahan psikologis akibat konflik berkepanjangan.

Para pekerja menyuarakan tuntutan sederhana namun mendasar: kepastian hukum dan rasa aman untuk bekerja. Selama konflik belum selesai, mereka merasa hidup dalam bayang-bayang intimidasi dan ancaman keselamatan yang terus menghantui.

Ketidakpastian yang Menggerogoti Psikologis

Konflik lahan di kawasan Java Coffee Estate dan Kebun Blawan tidak hanya berdampak pada aset perusahaan, tetapi juga pada kondisi mental para pekerja. Sejak konflik mencuat, aktivitas harian di kebun dilakukan dengan rasa waswas.

Ketidakpastian hukum membuat pekerja merasa posisi mereka rentan. Mereka datang ke kebun bukan lagi dengan semangat produktif, melainkan dengan kekhawatiran akan keselamatan diri dan keluarga. Bagi banyak pekerja, situasi ini jauh lebih melelahkan daripada pekerjaan fisik di lereng pegunungan.

Kerusakan Kebun dalam Skala Besar

Dampak konflik terlihat jelas pada kondisi kebun. Data internal perusahaan menunjukkan ratusan ribu pohon kopi produktif mengalami kerusakan akibat penebangan dan perusakan ilegal. Lahan ratusan hektar yang sebelumnya menjadi sumber penghidupan kini berubah menjadi area rusak.

Kerugian materiil ditaksir mencapai puluhan miliar rupiah. Namun, bagi para pekerja, angka tersebut belum sepenuhnya menggambarkan besarnya dampak yang mereka rasakan. Hilangnya pohon kopi berarti berkurangnya pekerjaan, menurunnya pendapatan, dan ancaman terhadap keberlanjutan hidup.

Kopi Negara dan Identitas Wilayah

Kopi arabika dari kawasan Ijen telah lama menjadi identitas daerah. Produk kopi negara ini dikenal memiliki karakter rasa khas yang diminati pasar nasional maupun internasional. Keberlanjutan kebun kopi bukan hanya soal bisnis, tetapi juga soal warisan budaya dan ekonomi lokal.

Ketika kebun rusak, yang terancam bukan hanya produksi, tetapi juga reputasi kopi Ijen sebagai salah satu ikon kopi Indonesia. Para pekerja menyadari betul bahwa konflik berkepanjangan dapat menggerus nilai tersebut secara perlahan.

Rasa Aman yang Ikut Tercabut

Salah satu dampak paling nyata dari konflik ini adalah hilangnya rasa aman. Para pekerja mengaku tidak lagi merasa nyaman berada di kebun. Ancaman, intimidasi, dan ketidakjelasan status lahan membuat mereka bekerja dalam tekanan psikologis yang tinggi.

Bagi keluarga pekerja, situasi ini menimbulkan kekhawatiran berlapis. Ketika kepala keluarga berangkat bekerja, rasa cemas selalu menyertai. Kondisi ini menciptakan beban emosional yang sulit diukur dengan angka.

Tuntutan Penyelesaian yang Berkeadilan

Dalam aksi yang dilakukan, serikat pekerja menegaskan bahwa mereka tidak menuntut hal berlebihan. Yang mereka inginkan adalah penyelesaian konflik yang adil dan berpihak pada hukum. Kepastian status lahan menjadi kunci untuk mengembalikan stabilitas kerja dan produksi.

Pekerja berharap pemerintah daerah dan pihak terkait dapat mengambil peran aktif. Tanpa kehadiran negara sebagai penengah yang tegas, konflik dikhawatirkan akan terus berlarut dan memperbesar kerugian.

Dampak Jangka Panjang bagi Produksi

Jika konflik tidak segera diselesaikan, dampaknya bisa meluas. Kerusakan kebun akan menurunkan produksi kopi dalam jangka panjang. Proses pemulihan kebun kopi tidak bisa instan, karena membutuhkan waktu bertahun-tahun hingga tanaman kembali produktif.

Penurunan produksi juga berpotensi memicu pengurangan tenaga kerja. Hal ini menjadi kekhawatiran besar bagi ribuan pekerja yang menggantungkan hidup sepenuhnya pada perkebunan kopi.

Konflik Lahan sebagai Persoalan Struktural

Kasus di Ijen mencerminkan persoalan struktural konflik lahan di sektor perkebunan. Ketika tata kelola dan penegakan hukum lemah, ruang konflik terbuka lebar. Pekerja sering kali menjadi pihak paling rentan karena berada di posisi terbawah dalam rantai kekuasaan.

Penyelesaian konflik lahan tidak bisa hanya bersifat sementara. Diperlukan kebijakan jangka panjang yang menjamin kepastian hukum, perlindungan pekerja, dan keberlanjutan lingkungan.

Harapan Akan Pemulihan dan Kepastian

Di tengah kekecewaan yang berlarut, para pekerja masih menyimpan harapan. Mereka berharap kebun kopi negara di Ijen dapat kembali menjadi ruang kerja yang aman dan produktif. Kepastian hukum diharapkan mampu memulihkan rasa percaya diri pekerja.

Bagi mereka, bekerja di kebun kopi bukan sekadar mencari nafkah, tetapi menjaga warisan dan masa depan. Konflik yang berakhir dengan solusi adil akan menjadi titik balik bagi kebun kopi Ijen untuk kembali tumbuh, bukan hanya secara ekonomi, tetapi juga secara sosial dan kemanusiaan.

Cek Juga Artikel Dari Platform beritabumi.web.id

By mimin